Minggu, 06 Maret 2011

perkembangan media dakwah

PERKEMBANGAN MEDIA DAKWAH
Makalah Ini Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas
Pada Mata Kuliah :
Ilmu Dakwah

Dosen pengampu :
Drs. Abdul Manan M.Sc

D:\01 MAHBOB DATAs\Picture\back ground\Logo\Logo  INKAFA\Inkafa BW.bmp










Oleh :
Arif Mauluddin



JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT KEISLAMAN ABDULLAH FAQIH
GRESIK 2011



 



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Perjalanan dakwah dari masa ke masa selalu menuai cerita, tak terkecuali cerita akan media dakwah yang di gunakan para muballigh untuk menyebarkan ajaran islam. Mulai dari zaman abad ke 1 H. sampai abad ke 14 H. ini begitu banyak sejarah tentang media-media dakwah yang di gunakan para da’I untuk meneruskan perjuangan rosulullah SAW. Namun dalam pembahasan kali ini pemakalah hanya mencantumkan media-media dakwah yang di gunakan penyebar islam di jawa yakni wali songo.
B.     Rumusan masalah
     1.bagaimana perkembangan dakwah pada masa sekarang….?
C.     Manfaat dan Tujuan
seiring dengan erkembangnya zaman. Maka ada perlunya kita mengetahui sejauh mana perkembangan media dakwah saat ini demi lancarnya perjalanan dakwah yang kita usung. Dengan memanfaatkan media-media dakwah yang ada maka kita akan mencapai apa yang kita inginkan dari dakwah kita.












BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN MEDIA DAKWAH
     Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara mereka mengajarkan Islam. Masyarakat semasa itu sebagian besar memeluk agama Hindu. Para wali tak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan yang sejak lama menjadi keyakinan masyarakat. Salah satunya adalah wayang.
     Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur. Pagelaran wayang sangat digemari masyarakat. Setiap pementasannya selalu dipenuhi penonton.
     Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus. Namun, konon timbul perdebatan di antara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai manusia. Setelah berembug, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus diubah.
     Bentuk baru pun tercipta. Wayang dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk bagian-bagian wajah juga dibuat berbeda dengan wajah manusia.
     Tak hanya bentuknya saja, ada banyak sisipan dalam cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran-ajaran dan pesan moral. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinan itu Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.
     Cara dakwah yang diterapkan para wali tersebut terbukti efektif. Masyarakat menerima ajaran Islam tanpa ada pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar hampir di seluruh tanah Jawa. Penganut Islam kian hari kian bertambah, termasuk para penguasanya.
     Wayang pun kian sering dipentaskan. Tak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontonan saja, tapi juga menjadi tuntunan. (imam)
     Dewasa ini wayang berlahan semakin meredup kiprahnya sebagai media dakwah. Kini era telah modern, banyak media-media massa yang lebih simple, efektif, dan cepat dalam mengkomunikasikan ajaran islam khususnya. Media dakwah pun mengikuti perkembangan zaman itu sendiri.dan mengikuti media-media massa itu.
     Diantara media-media massa itu adalah:
1.      Mimbar
Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum'at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di masjid-masjid, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama'ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama'ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid dengan tujuan agar jama'ah yang berada diluar masjid tetap dapat melihat yang khutbah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu: Mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya yang khutbah membawa tongkat sedangkan mimbar yang tidak bertangga yang khutbah tidak membawa tongkat.
2.      Media Cetak
Media cetak pada era dewasa ini telah bermunculan bagaikan munculnya jamur di musim hujan. Baik majalah, koran ataupun buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada itu di sebagai sarana untuk merdakwah.
Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh kita hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-pebulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma'ruf nahi munkar di bidang media cetak, mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya. Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Mereka dipacu oleh kebutuhan sensasi, iklan dan kebutuhan bisnisnya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.
3.      Radio
Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang masih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu alangkah bermanfaat jika radio penuh dengan siaran-siarang yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma'ruf nahi munkar )
Pesawat radio sering kali kita jumpai diputar semalam suntuk di warung-warung kopi, pos-pos jaga serta mobil-mobil, bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan dakwah.
4.      Televisi 
Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restaurant-restaurant.
Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral, seperti pistol. Jika pistol di tangan orang jahat, maka pistol akan gunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah. Namun jika pistol itu ditangan polisi yang beriman dan bijak, maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang benar. 
Televisi merupakan media audio-visual, yang juga sering disebut sebagai media pandang dengar. Artinya televisi itu selain dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu alangkah besar manfaatnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah kondisi pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.
5.      Celluler
Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dari pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah, bahkan tidak sedikit para remaja pengangguranpun, pelajar yang mereka belum memiliki panghasilan yang menggunakan celluler.
Melihat begitu semaraknya celluler, maka alangkah besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service (mms) sebagai media untuk mengirin pesan-pesan normatif . Dengan ber-mms- kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah.
6.      Film
Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang memirsanya. Di saat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.
Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya, maka alangkah besar manfaatnya film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah. 
7.      Internet
Dakwah melalui internet di nilai sangat efektif dan potensial dengan beberapa alasan. Di antaranya mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejapdengan enargi yang relative terjangkau. Pengguna jasa internet setiap tahun meningkat, ini berarti berpengaruh pada jumlah penyerap misi dakwah.
Selain media-media yang kami sebutkan di atas, masih banyak media-media lain yang dapat kita jadikan sebagai sarana untuk berdakwah. Namun media-media di atas merupakan media-media massa yang memang saat ini telah banyak di gunakan masyarakat. Maka jika kita berdakwah dengan memanfaatkan media-media tersebut, maka bukan tidak mungkin kita akan memperoleh apa yang kita inginkan dari dakwah tersebut di zaman ini.

























BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
     Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pekembangan media dakwah di era ini sangatlah terlihat seiring kemajuan teknologi saat ini. Kita bisa melihat realita yang terjadi saat ini. Dengan begitu banyaknya media-media yang bisa kita gunakan maka itu akan mempermudah kita dalam melakukan kegiatan dakwah kita. Kita bisa menggunakan salah satu bahkan semua media yang ada untuk kegiatan dakwah.

B.  Saran       
     Dalam berdakwah kita memerlukan berbagai media agar apa yang kita sampaikan dapat mengena kapada mad’u maka dari itu setiap da’I atau para calon da’I harus mengetahui dan memahami dengan betul media dakwah yang kian marak dalam dewasa ini, maka kami berharap dengan makalah yang kami sampaikan dapat menjadi acuan dalam hal tersebut




dakwah pra kemerdekaan dan kemerdekaan

DAKWAH ISLAM
ZAMAN PRA KEMERDEKAAN DAN KEMERDEKAAN
Makalah ini disampaikan untuk memenuhi tugas
pada mata kuliah sejarah dakwah

Dosen pengampu :
Ust.Muhammad Rofiq.S.Ag.M.pd
D:\01 MAHBOB DATAs\Picture\back ground\Logo\Logo  INKAFA\Inkafa BW.bmp





Oleh :Arif Mauluddin 


JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT KEISLAMAN ABDULLAH FAQIH
GRESIK






BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Islam adalah agama dakwah, yang artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk selalu berdakwah bahkan maju mundurnya umat islam sangatlah bergantung pada kegiatan dakwah yang dilakukan oleh pemeluknya. maka dari itu pentingnya mempelajari sejarah dakwah ini sebagai suatu pedoman dan tolak ukur unuk mencapai suatu keberhasilan dan menyebarluaskan islam itu sendiri.
Seorang da’I akan mendapat respon yang baik dari mad’u bila mana da’I telah mengetahui, memahami dunia dakwah dan terlebih sejarah kedakwaan. Berbagai rintangan dalam dakwah sendiri tidaklah sedikit. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW .sampai penerus beliau hingga saat ini.
Pada pembahasan ini “dakwah pada masa pra kemerdekaan dan masa kemerdekaan di Indonesia” tidaklah kalah pentingnya dengan sejarah pada masa-masa awal kebangkitan islam. Dengan pembahasan ini kita akan tau bagaimana semangatnya para ulama’ islam pendahulu di tanah nusantara untuk mnyebarkan agama yang mulia ini.

B.   Rumusan masalah
1.     bagaimana dakwah di Indonesia pada masa pra kemerdekaan dan kemerdekaan…?
2.     apa saja tantangan yang di hadapi para da’I pada masa itu…?

C.   Manfaat dan Tujuan
Dalam studi sejarah sudah jelas bahwa tujuan utama adalah bisa mengambil contoh dari sejarah tempo dulu. Agar bisa jadi pegangan di masa sekarang. Khusus untuk sejarah dakwah tujuan dan manfaat yang bisa kita ambil adalah agar dapat mengetahui gimana proses dakwah tempo dulu agar bisa sebagai cermin untuk mengaca dan sebagai tolak ukur tentunya. Dengan mengetahui sejarah dakwah tempo dulu yang penuh semangat semoga bisa mendorong kita untuk lebih semangat lagi.

BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH DAKWAH DI INDONESIA PRA KEMERDKAAN DAN KEMERDEKAAN

1.       Dakwah pada masa pra kemerdekaan/penjajahan
Dakwah di Indonesia sebelum Indonesia merdeka sudah pasti sangatlah panjang, seperti yang kita ketahui, islam masuk ke Indonesia di awal abad ke 7 M. dan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tapi dakwah di Indonesia pada masa penjajah terjadi sekitar 3 setengah abad.terhitung mulai datangnya penjajah belanda ke Indonesia yakni pada abad ke 17 M. tanah nusantara pada masa itu belumlah berbentuk Negara. Tapi berbentuk kerajaan-kerajaan islam dan hindu budha.
 Sebelum penjajah datang ke Indonesia, islam sudah menyebar luas di se-antero nusantara, melalui perdagangan yang mayoritas di kuasai pedagang muslim. Sampai akhirnya nusantara yang berbentuk kerajaan telah di kuasai saudagar-saudagar kaya musim. Belanda dengan tujuan dagang datang ke nusantara dan melihat kerajaan-kerajaan islam yang maju membuat mereka ingin menguasai nusantara. Sampai akhirnya para ulama’ sadar bahwa belanda mau menghancurkan nusantara dengan membawa ajaran Kristen. Perlawanan terhadap belanda pun di kobarkan. Di antara perlawaan-perlawanan terbesar dalam sejarah adalah:
A.   Perang Paderi di Minangkabau.
     Perang ini adalah bentuk perlawanan yang di lakukan oleh golongan kaum paderi terhadap pasukan belanda. Kaum paderi adalah kelompok islam radikal yang di usung oleh Tuanku Nan Renceh dan di Bantu oleh tiga ulama’ , Haji Miskin, Haji Rumanik, Haji Piobang, yang ketiganya baru datang dari makkah dengan semangat yang di ilhami gerakan Wahabi . fatwa-fatwa yang di bawa Haji Miskin yang terkesan radikal ini pada mulanya tidak di terima rakyat sehingga ia sempat di kejar-kejar oleh penduduk yang tidak menerima. Sampai akhirnya ia pergi ke kota lawas dan mendapat perlindungan dari Tuanku Mensiangan. Dari sini Haji Miskin menemukan teman-teman seperjuangan dan membentuk kelompok kaum paderi ini.
      Dengan bertambahnya sekutu pada masyarakat paderi inilah yang membuat mereka berani memerangi pasukan belanda. Kaum paderi memperkokoh benteng yang tangguh di bonjol. Benteng ini di pimpin oleh Muh. Syabah yang akhirnya bergelar Tuanku Imam bonjol.
B.    . Perang Diponegoro
    Perang diponegoro adalah perang terbesar yang di alami colonial belanda di tanah jawa. Peristiwa yang memicu peperangan adalah rencana pemerintah Hindia belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik pangeran diponegoro dan harus membongkar makam keramat.patok-patok yang di tanam pemerintah belanda di cabut oleh pihak diponegoro. Pemerintah belanda mengutus pangeran mankubumi untuk berunding dengan pangeran di ponegoro, namun pangeran mangkubumi malah berpihak pada pangeran diponegoro. Usaha pemerintah belanda untuk menangkap kedua pangeran ini di gagalkan oleh penduduk tegal rejo. Sementara pangeran diponegoro pindah ke Selarong untuk memimpin perlawanan
     Maksud dan tujuan pangeran diponegoro melawan belanda ialah: @ untuk mencapai cita” luhur mendirikan masyarakat yang bersendikan agama islam. @ mengembalikan keluhuran adap jawa yang bersih dari pengaruh barat.
Dengan taktik gerilya pangeran diponegoro berhasil mengepung kota yogya sehingga penduduk belanda merasa terancam. Sampai akhirnya ia di nobatkan sebagai pemimpin tertinggi jawa.
C.   Perang Banjarmasin
    Perang banjarmasin berkobar setelah pemerintah colonial belanda ikut campur tangan dengan kerajaan banjar pada masa itu. Setelah terjadinya kericuan di dalam kerajaan. belanda masuk dan mengambil alih kepemimpinan kerajaan sehingga membuat penduduk marah pada waktu itu. Dengan di pimpin oleh pangeran antasari yang berhasil mengumpulkan kurang lebih 3000 penduduk. Mereka menyerbu pos-pos belanda. Dengan dukungan dari pembesar-pembesar kerajaan lainnya, dalam pertempuran, banyak pasukan belanda yang tumbang pada watu itu. Gerakan cepat yang di lakukan antasari pada waktu itu sangat menyulitkan pasukan belanda. Namun akhirnya pembesar-pembesar kerajan satu demi satu menyerah dan kerajaan pun di kuasai belanda. Namun pada tanggal 14 maret 1862 pangeran antasari memproklamasikan pemerintahan kerajaan banjarmasin yang bebas dan merdeka,sebagai ganti kerajaan banjar masin.akan tetapi tujuh bulan setelah proklamasi pangeran antasari jatuh sakit dan wafat di hulu teweh
D.   Perang Aceh
         Pada tanggal 5 april 1873 tentara belanda mendarat dengan kekuatan 3000 personil. Dalam serangan pertama ini masjid di serang dan dapat di duduki tentara belanda. Namun karena seluruh rakyat aceh terlibat dalam melawan belanda. Maka masjid pun dapat di rebut kembali. Karena kuatnya rakyat aceh pada waktu itu, belanda dengan paksa terpukul mundur hingga akhirnya pada bulan November tahun itu juga belanda mengirim ekspedisi kedua dengan kekuatan sekitar 13.000 pasukan. Kali ini dengan mudah belanda menduduki masjid dan kraton. Namun itu semua tak menyurutkan semangat juang rakyat aceh. Pada 1874 sultan meninggal dan para pengikutnya pun mengungsi jauh. Perundingan yang di ajukan belanda di tolak oleh rakyat aceh. Akhirnya belanda menerapkan beberapa system yang masih selalu bisa di tembus oleh rakyat aceh.
    Pada tahun 1890 belanda mendekati kaum bangsawan karena mereka beranggapan bahwa kaum bangsawanlah yang memberi dana kepada para pejuang. Sehingga dengan taktik ini teuku umar menjadi berpihak kepada belanda. Dengan keperyaan besar dari belanda terhadap teuku umar, maka ia pun mendapat banyak senjata dari belanda dan kemudian membelot pada tahun 1896. Dengan demikian perang kembali bergejolak di seluruh aceh. Dalam perang ini teuku umar gugur dan di teruskan oleh istrinya cut nya’ dien.

2.       Dakwah pada masa kemerdekaan
     Pasca kemerdekaan Indonesia justru terpuruk, antara tahun (1959-1965) yang mana masa itu adlah masa orde lama dimana presiden soekarno mencanangkan pemerintahan berbentuk demokrasi terpimpin. Dalam artian seluruh kekuasaan berada dalam keputusan presiden.para pemimpin nasional seperti mochtar lubus, mr. assaat. K.H. ansori DLL. Yang bersikap kritis terhadap politik demokrasi terpimpin, di tangkap dan di penjarakan tanpa proses pengadilan.puncak dari masa kegelapan ini adalah pecahnya pemberontakan g. 30 s. PKI.
      Sesudah pemberontakan dapat di hancurkan datanglah zaman baru yang membawa banyak harapan. Yaitu orde baru yang bertekad melaksanakan pancasila dan uud 1945 secara murni dan konsekuen. Pada masa inilah para pemimin bangsa yang di penjarakan masa rezim lama di bebaskan. Dan inilah masa baru bagi agama islam di Indonesia, di mana para pemimpin nasional islami seperti mohammad natsir dan prawoto mangkusasmito yang dulunya berpangku tangan mulai ikut aktif merancang gagasan untuk berpartisipasi penuh di pemerintahan orde baru tersebut.
     Awal perjalanan dakwah dua tokoh nasionalis islami ini adalah memintah pada pemerintahan orde lama untuk merehabilitasi partai politik masyumi yang telah secara paksa di bubarkan oleh peerintahan orde lama. Tapi atas pertimbangan beberapa pihak partai politik ini tetap di bubarkan. Keputusan ini tidak membuat tokoh-tokoh nasionalis islam berputus harapan.bagi mereka aktivitas hidup ini hanya untuk beribadah dan berdakwah untuk mencapai keridhoan illahi. Dan berkecimpung di lapangan politik merupakan bagian dari ibadah dan dakwah. Maka ketika mereka tidak lagi dapat kesempatan dalam dunia politik jalan ibadah dan dakwah yang lain masih terbuka sangat lebar. Dalam kata-kata pak natsi dulu “dulu berdakwah melalui jalur politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah”.
     Pada tanggal 26 februari 1967 atas undangan pengurus masjid AL munawwarah kampung bali Jakarta pusat. Para ulama’ dan zuama’ berkumpul musyawarah, membahas, dan menilai beberapa masalah  terutama dengan usaha pembangunan umat. Dan usaha mempertahankan aqidah yang ada dalam kesimpangsiuran kekuatan yang ada dalam masyarakat. Musyawarah menyimpulkan dua hal sebagai berikut: 1. meyatakan syukur atas hasil yang di capai dalam usaha-usaha dakwah yang secara terus menerus di lakukan oleh beberapa kalangan umat. 2. memandang perlu untuk meningkatkan hasil dakwah hingga taraf  yang lebih tinggi.
    
                                                                 BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
         dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa dakwah pada masa penjajahan sampai kemerdekaan di lakukan oleh para ulama’ melalui jalur pemerintahan. Para ulama’ memanfaatkan kedudukan yang mereka miliki untuk berdakwah menyebarluaskan ajaran agama islam di Indonesia khususnya.
B.       Saran
         Dalam berdakwah kita perlu sedikit mengaca pada sejarah-sejarah perjalanan dakwah agar apa yang kita sampaikan dapat mengena kapada mad’u maka dari itu setiap da’I atau para calon da’I harus mengetahi dan memahami dengan betul tentang sejarah-sejarah perjalana dakwah tempo dulu, maka kami berharap dengan makalah ang kami sampikan dapat menjadi acuan dalam hal tersebut.


DAFTAR PUSTAKA : sejarah peradaban islam
    



makalah perkembangan dakwah

PERKEMBANGAN MEDIA DAKWAH
Oleh: arif mauluddin
     Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara mereka mengajarkan Islam. Masyarakat semasa itu sebagian besar memeluk agama Hindu. Para wali tak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan yang sejak lama menjadi keyakinan masyarakat. Salah satunya adalah wayang.
     Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur. Pagelaran wayang sangat digemari masyarakat. Setiap pementasannya selalu dipenuhi penonton.
     Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus. Namun, konon timbul perdebatan di antara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai manusia. Setelah berembug, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus diubah.
     Bentuk baru pun tercipta. Wayang dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk bagian-bagian wajah juga dibuat berbeda dengan wajah manusia.
     Tak hanya bentuknya saja, ada banyak sisipan dalam cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran-ajaran dan pesan moral. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinan itu Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.
     Cara dakwah yang diterapkan para wali tersebut terbukti efektif. Masyarakat menerima ajaran Islam tanpa ada pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar hampir di seluruh tanah Jawa. Penganut Islam kian hari kian bertambah, termasuk para penguasanya.
     Wayang pun kian sering dipentaskan. Tak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontonan saja, tapi juga menjadi tuntunan. (imam)
     Dewasa ini wayang berlahan semakin meredup kiprahnya sebagai media dakwah. Kini era telah modern, banyak media-media massa yang lebih simple, efektif, dan cepat dalam mengkomunikasikan ajaran islam khususnya. Media dakwah pun mengikuti perkembangan zaman itu sendiri.dan mengikuti media-media massa itu.
     Diantara media-media massa itu adalah:

 1.   Mimbar
   Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum'at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di masjid-masjid, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama'ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama'ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid dengan tujuan agar jama'ah yang berada diluar masjid tetap dapat melihat yang khutbah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu: Mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya yang khutbah membawa tongkat sedangkan mimbar yang tidak bertangga yang khutbah tidak membawa tongkat.

 2.    Media Cetak
   Media cetak pada era dewasa ini telah bermunculan bagaikan munculnya jamur di musim hujan. Baik majalah, koran ataupun buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada itu di sebagai sarana untuk merdakwah.
Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh kita hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-pebulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma'ruf nahi munkar di bidang media cetak, mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya.
Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Mereka dipacu oleh kebutuhan sensasi, iklan dan kebutuhan bisnisnya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.
 3.    Radio
   Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang masih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu alangkah bermanfaat jika radio penuh dengan siaran-siarang yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma'ruf nahi munkar )
Pesawat radio sering kali kita jumpai diputar semalam suntuk di warung-warung kopi, pos-pos jaga serta mobil-mobil, bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan dakwah.

 4.    Televisi 
   Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restaurant-restaurant.
Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral, seperti pistol. Jika pistol di tangan orang jahat, maka pistol akan gunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah. Namun jika pistol itu ditangan polisi yang beriman dan bijak, maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang benar.
Televisi merupakan media audio-visual, yang juga sering disebut sebagai media pandang dengar. Artinya televisi itu selain dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu alangkah besar manfaatnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah kondisi pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.

 5.   Celluler
   Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dari pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah, bahkan tidak sedikit para remaja pengangguranpun, pelajar yang mereka belum memiliki panghasilan yang menggunakan celluler.
Melihat begitu semaraknya celluler, maka alangkah besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service (mms) sebagai media untuk mengirin pesan-pesan normatif . Dengan ber-mms- kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah.

 6.    Film
   Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang memirsanya. Di saat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.
Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya, maka alangkah besar manfaatnya film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah.
 7.   internet
   Dakwah melalui internet di nilai sangat efektif dan potensial dengan beberapa alasan. Di antaranya mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejapdengan enargi yang relative terjangkau. Pengguna jasa internet setiap tahun meningkat, ini berarti berpengaruh pada jumlah penyerap misi dakwah.
   Selain media-media yang kami sebutkan di atas, masih banyak media-media lain yang dapat kita jadikan sebagai sarana untuk berdakwah. Namun media-media di atas merupakan media-media massa yang memang saat ini telah banyak di gunakan masyarakat. Maka jika kita berdakwah dengan memanfaatkan media-media tersebut, maka bukan tidak mungkin kita akan memperoleh apa yang kita inginkan dari dakwah tersebut di zaman ini.
 PERKEMBANGAN MEDIA DAKWAH
Oleh: arif mauluddin
     Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara mereka mengajarkan Islam. Masyarakat semasa itu sebagian besar memeluk agama Hindu. Para wali tak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan yang sejak lama menjadi keyakinan masyarakat. Salah satunya adalah wayang.
     Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur. Pagelaran wayang sangat digemari masyarakat. Setiap pementasannya selalu dipenuhi penonton.
     Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus. Namun, konon timbul perdebatan di antara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai manusia. Setelah berembug, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus diubah.
     Bentuk baru pun tercipta. Wayang dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk bagian-bagian wajah juga dibuat berbeda dengan wajah manusia.
     Tak hanya bentuknya saja, ada banyak sisipan dalam cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran-ajaran dan pesan moral. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinan itu Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.
     Cara dakwah yang diterapkan para wali tersebut terbukti efektif. Masyarakat menerima ajaran Islam tanpa ada pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar hampir di seluruh tanah Jawa. Penganut Islam kian hari kian bertambah, termasuk para penguasanya.
     Wayang pun kian sering dipentaskan. Tak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontonan saja, tapi juga menjadi tuntunan. (imam)
     Dewasa ini wayang berlahan semakin meredup kiprahnya sebagai media dakwah. Kini era telah modern, banyak media-media massa yang lebih simple, efektif, dan cepat dalam mengkomunikasikan ajaran islam khususnya. Media dakwah pun mengikuti perkembangan zaman itu sendiri.dan mengikuti media-media massa itu.
     Diantara media-media massa itu adalah:

 1.   Mimbar
   Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum'at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di masjid-masjid, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama'ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama'ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid dengan tujuan agar jama'ah yang berada diluar masjid tetap dapat melihat yang khutbah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu: Mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya yang khutbah membawa tongkat sedangkan mimbar yang tidak bertangga yang khutbah tidak membawa tongkat.

 2.    Media Cetak
   Media cetak pada era dewasa ini telah bermunculan bagaikan munculnya jamur di musim hujan. Baik majalah, koran ataupun buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada itu di sebagai sarana untuk merdakwah.
Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh kita hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-pebulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma'ruf nahi munkar di bidang media cetak, mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya.
Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Mereka dipacu oleh kebutuhan sensasi, iklan dan kebutuhan bisnisnya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.
 3.    Radio
   Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang masih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu alangkah bermanfaat jika radio penuh dengan siaran-siarang yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma'ruf nahi munkar )
Pesawat radio sering kali kita jumpai diputar semalam suntuk di warung-warung kopi, pos-pos jaga serta mobil-mobil, bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan dakwah.

 4.    Televisi 
   Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restaurant-restaurant.
Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral, seperti pistol. Jika pistol di tangan orang jahat, maka pistol akan gunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah. Namun jika pistol itu ditangan polisi yang beriman dan bijak, maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang benar.
Televisi merupakan media audio-visual, yang juga sering disebut sebagai media pandang dengar. Artinya televisi itu selain dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu alangkah besar manfaatnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah kondisi pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.

 5.   Celluler
   Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dari pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah, bahkan tidak sedikit para remaja pengangguranpun, pelajar yang mereka belum memiliki panghasilan yang menggunakan celluler.
Melihat begitu semaraknya celluler, maka alangkah besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service (mms) sebagai media untuk mengirin pesan-pesan normatif . Dengan ber-mms- kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah.

 6.    Film
   Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang memirsanya. Di saat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.
Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya, maka alangkah besar manfaatnya film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah.
 7.   internet
   Dakwah melalui internet di nilai sangat efektif dan potensial dengan beberapa alasan. Di antaranya mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejapdengan enargi yang relative terjangkau. Pengguna jasa internet setiap tahun meningkat, ini berarti berpengaruh pada jumlah penyerap misi dakwah.
   Selain media-media yang kami sebutkan di atas, masih banyak media-media lain yang dapat kita jadikan sebagai sarana untuk berdakwah. Namun media-media di atas merupakan media-media massa yang memang saat ini telah banyak di gunakan masyarakat. Maka jika kita berdakwah dengan memanfaatkan media-media tersebut, maka bukan tidak mungkin kita akan memperoleh apa yang kita inginkan dari dakwah tersebut di zaman ini.
 PERKEMBANGAN MEDIA DAKWAH
Oleh: arif mauluddin
     Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara mereka mengajarkan Islam. Masyarakat semasa itu sebagian besar memeluk agama Hindu. Para wali tak langsung menentang kebiasaan-kebiasaan yang sejak lama menjadi keyakinan masyarakat. Salah satunya adalah wayang.
     Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya di Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk wayang pada awalnya menyerupai relief yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur. Pagelaran wayang sangat digemari masyarakat. Setiap pementasannya selalu dipenuhi penonton.
     Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran Islam yang sangat bagus. Namun, konon timbul perdebatan di antara para wali mengenai bentuk wayang yang menyerupai manusia. Setelah berembug, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi bentuknya harus diubah.
     Bentuk baru pun tercipta. Wayang dibuat dari kulit kerbau dengan wajah yang digambarkan miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai ke kaki. Bentuk bagian-bagian wajah juga dibuat berbeda dengan wajah manusia.
     Tak hanya bentuknya saja, ada banyak sisipan dalam cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran-ajaran dan pesan moral. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinan itu Bima mengajarkan kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama dengan sesama manusia.
     Cara dakwah yang diterapkan para wali tersebut terbukti efektif. Masyarakat menerima ajaran Islam tanpa ada pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar hampir di seluruh tanah Jawa. Penganut Islam kian hari kian bertambah, termasuk para penguasanya.
     Wayang pun kian sering dipentaskan. Tak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontonan saja, tapi juga menjadi tuntunan. (imam)
     Dewasa ini wayang berlahan semakin meredup kiprahnya sebagai media dakwah. Kini era telah modern, banyak media-media massa yang lebih simple, efektif, dan cepat dalam mengkomunikasikan ajaran islam khususnya. Media dakwah pun mengikuti perkembangan zaman itu sendiri.dan mengikuti media-media massa itu.
     Diantara media-media massa itu adalah:

 1.   Mimbar
   Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar biasa digunakan pada saat khutbah Jum'at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian hari besar Islam baik di Kampung maupun di masjid-masjid, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung.
Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama'ah dapat lebih terfokus pada satu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama'ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid dengan tujuan agar jama'ah yang berada diluar masjid tetap dapat melihat yang khutbah.
Dari segi model mimbar ada dua macam, yaitu: Mimbar bertangga (terbuka) dan mimbar tidak bertangga (tertutup). Mimbar yang memiliki tangga biasanya yang khutbah membawa tongkat sedangkan mimbar yang tidak bertangga yang khutbah tidak membawa tongkat.

 2.    Media Cetak
   Media cetak pada era dewasa ini telah bermunculan bagaikan munculnya jamur di musim hujan. Baik majalah, koran ataupun buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada itu di sebagai sarana untuk merdakwah.
Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh kita hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-pebulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma'ruf nahi munkar di bidang media cetak, mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya.
Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Mereka dipacu oleh kebutuhan sensasi, iklan dan kebutuhan bisnisnya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.
 3.    Radio
   Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang masih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu alangkah bermanfaat jika radio penuh dengan siaran-siarang yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma'ruf nahi munkar )
Pesawat radio sering kali kita jumpai diputar semalam suntuk di warung-warung kopi, pos-pos jaga serta mobil-mobil, bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan dakwah.

 4.    Televisi 
   Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai dimana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restaurant-restaurant.
Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral, seperti pistol. Jika pistol di tangan orang jahat, maka pistol akan gunakan untuk menembak orang yang tidak bersalah. Namun jika pistol itu ditangan polisi yang beriman dan bijak, maka pistol itu akan digunakan untuk melindungi orang-orang benar.
Televisi merupakan media audio-visual, yang juga sering disebut sebagai media pandang dengar. Artinya televisi itu selain dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu alangkah besar manfaatnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah kondisi pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.

 5.   Celluler
   Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dari pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah, bahkan tidak sedikit para remaja pengangguranpun, pelajar yang mereka belum memiliki panghasilan yang menggunakan celluler.
Melihat begitu semaraknya celluler, maka alangkah besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service (mms) sebagai media untuk mengirin pesan-pesan normatif . Dengan ber-mms- kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah.

 6.    Film
   Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang memirsanya. Di saat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang peran film.
Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya, maka alangkah besar manfaatnya film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah.
 7.   internet
   Dakwah melalui internet di nilai sangat efektif dan potensial dengan beberapa alasan. Di antaranya mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejapdengan enargi yang relative terjangkau. Pengguna jasa internet setiap tahun meningkat, ini berarti berpengaruh pada jumlah penyerap misi dakwah.
   Selain media-media yang kami sebutkan di atas, masih banyak media-media lain yang dapat kita jadikan sebagai sarana untuk berdakwah. Namun media-media di atas merupakan media-media massa yang memang saat ini telah banyak di gunakan masyarakat. Maka jika kita berdakwah dengan memanfaatkan media-media tersebut, maka bukan tidak mungkin kita akan memperoleh apa yang kita inginkan dari dakwah tersebut di zaman ini.